IJINKAN
DIA MERESAP
Banjir
kembali melanda,,,,,,,,,
Kini Ibukota Negara kita “JAKARTA” jadi sasarannya. Hampir seluruh bagian kota Jakarta terendam banjir. Isak tangis dan keluhan ribuan orang terdengar di mana-mana. Kepada siapa mereka mengeluh? Kepada siapa mereka menangis? Siapa yang harus di salahkan? Apakah ini harus dibebankan kepada pemerintah?
Kini Ibukota Negara kita “JAKARTA” jadi sasarannya. Hampir seluruh bagian kota Jakarta terendam banjir. Isak tangis dan keluhan ribuan orang terdengar di mana-mana. Kepada siapa mereka mengeluh? Kepada siapa mereka menangis? Siapa yang harus di salahkan? Apakah ini harus dibebankan kepada pemerintah?
Sesungguhnya
banjir itu tidak akan terjadi apabila kita sebagai manusia tidak
serakah. Bagaimana tidak? Masyarakat jakarta takut berjalan di atas
tanah sehingga semua bagian kota jakarta di aspal. Masyarakat jakarta
ingin lingkungan rumahnya bersih tetapi dengan cara mengotori
lingkungan alam. Bagaimana mungkin alam bisa memanjakan kita kalau
kita sendiri tindak pernah menyadari semua itu. Banjr yang terjadi
sesungguhnya hannyalah reaksi alam yang memang sudah dari dulunya
seperti itu. Sungai tidak mampu menampung air hujan yang begitu
banyak karena sudah di penuhi ole sampah yang di buang sembarangan
oleh mereka yang tidak pernah sadar. Untuk apa mengeluh? Toh alam
tidak pernah mengeluh kepada kita kalau dia sudah terlalu lama di
sakiti. Alam kini sedang menunjukan kepada kita rasa sakit hatinya
yang selama ini tidak pernah di sadari oleh masyarakat jakarta.
Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memberinya waktu untuk
menyerap dan kembali ke alamnya.
Sudah
terlambat untuk mengeluh tapi belum terlambat untuk berubah.
Kesadaran adalah kunci utama. Jangan sampai dia murka dan bisa saja
menghabisi kita semua. Tidak sadarkah kalau kita berpijak di atasnya
dan kapanpun dia mau dia bisa membunuh kita semua. Percayalah kalau
Alam itu Allah dan Allah itu Alam.
Doaku
selalu menyertai,
semoga
banjir yang merendam Jakarta cepat surut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar