Senin, 28 Januari 2013

ijinkan dia meresap

IJINKAN DIA MERESAP

Banjir kembali melanda,,,,,,,,,
Kini Ibukota Negara kita “JAKARTA” jadi sasarannya. Hampir seluruh bagian kota Jakarta terendam banjir. Isak tangis dan keluhan ribuan orang terdengar di mana-mana. Kepada siapa mereka mengeluh? Kepada siapa mereka menangis? Siapa yang harus di salahkan? Apakah ini harus dibebankan kepada pemerintah?
Sesungguhnya banjir itu tidak akan terjadi apabila kita sebagai manusia tidak serakah. Bagaimana tidak? Masyarakat jakarta takut berjalan di atas tanah sehingga semua bagian kota jakarta di aspal. Masyarakat jakarta ingin lingkungan rumahnya bersih tetapi dengan cara mengotori lingkungan alam. Bagaimana mungkin alam bisa memanjakan kita kalau kita sendiri tindak pernah menyadari semua itu. Banjr yang terjadi sesungguhnya hannyalah reaksi alam yang memang sudah dari dulunya seperti itu. Sungai tidak mampu menampung air hujan yang begitu banyak karena sudah di penuhi ole sampah yang di buang sembarangan oleh mereka yang tidak pernah sadar. Untuk apa mengeluh? Toh alam tidak pernah mengeluh kepada kita kalau dia sudah terlalu lama di sakiti. Alam kini sedang menunjukan kepada kita rasa sakit hatinya yang selama ini tidak pernah di sadari oleh masyarakat jakarta. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memberinya waktu untuk menyerap dan kembali ke alamnya.
Sudah terlambat untuk mengeluh tapi belum terlambat untuk berubah. Kesadaran adalah kunci utama. Jangan sampai dia murka dan bisa saja menghabisi kita semua. Tidak sadarkah kalau kita berpijak di atasnya dan kapanpun dia mau dia bisa membunuh kita semua. Percayalah kalau Alam itu Allah dan Allah itu Alam.



Doaku selalu menyertai,
semoga banjir yang merendam Jakarta cepat surut.